Tenggelam

“Mungkin banyak yang tergila-gila padamu, salah satunya suamiku” 

Inbok yang masuk di ponselku, 

“maaf, aku sudah bersuami dan memiliki anak, dan lagi aku bukan wanita penggoda” 

Rupanya balasanku tidak membuatnya puas, ponselku berbunyi belasan kali dengan waktu yang berbeda dari nomer yang sama.. Aku mengangkatnya meskipun di sela sibukku memasak.. 

Jauh disana dia berbicara “dia benar menyukaimu”

Suara wanita itu terlihat begitu tegar, mungkin aku tak setegar itu jika posisiku berada pada wanita itu, yang terdzalimi hatinya

“kamu yakin dengan pernyataanmu?” tanyaku agak serius. 

“ya, dia berubah sejak mengenalmu, berfikirlah, bagaimana jika itu suamimu?”

“oh, kamu salah dong kalau menghubungiku, itu urusanmu dengan suamimu, aku tidak pernah menggodanya, aku tau diri, selesaikan saja urusanmu dengan suamimu di atas ranjang! Mengapa menghubungiku? Ini benang merah yang aku tidak akan ikut masuk di dalamnya”

“sudah ku ajak bicara, dan dia terang-terangan menyatakan hal itu padaku, kalau dia menyukaimu”

“Tapi aku tidak merasa disukainya, aku gak gampang ge-er, sampaikan kepadanya aku tidak suka lelaki yang tidak setia kepada wanitanya, dicintai seorang lelaki yang sudah berkeluarga sama artinya dengan merendahkan harga diriku sendiri sebagai seorang wanita, maaf aku tak tau apa-apa tentang masalah ini, mulai saat ini aku tidak akan pernah bertatap muka dengan suamimu”

“jangan, nanti dia bakal kepikiran kamu kalau kamu menghindar? Dia mencintaimu”

“aku tau hukum, aku tau syariat, cinta tidak pernah salah, tapi banyak orang berbuat kesalahan atas nama cinta, rebut kembali hatinya, jangan khawatir, aku akan menjauh dari kalian, urusi masalah kalian sendiri!”

Terdengar suaranya berbicara dengan anaknya, dan.. Tuut tuut.. Telfonnya ditutup.. 

Oh, aku bercermin.. Dan bicara pada sosok di depanku. Hai, kau sudah makin tua! Mengapa makin nambah dosa? Lihatlah wanita yang meneleponmu tadi, berapa ratus cambukan yang kau hujam di hatinya? Ah, tapi dia lancang, membuka aib suaminya sendiri, bukankah seharusnya dia meracik secangkir rindu, sembari berbisik manja pada suaminya, aku milikmu selamanya, sebagaimana yang selalu kulakukan pada suamiku. “Quality time” pesanku pada wanita itu saat dia menghubungiku lagi, dandanlah yang cantik untuk suamimu, sambutlah kedatangannya di rumah, tawari apa maunya. Mungkin nasehat itu tampak konyol baginya, tapi, semoga dia mau mencoba dan mereka berhasil melewati ujian hati. 

Iklan

Riuh

Pada hati yang sepi

Kutuliskan puisi

Kumaknai sendiri

Dalam mimbar sanubari
Tiada roman dalam kata

Hanya getir menyapa

Puisiku baka

Lalu kau tanya cinta
Tiada kekal rasa

Sekelibat fana

Rindu kau sapa

Tersesat entah kemana

Dewi

Ada saat dimana seorang wanita merasa cemburu, mungkin bukan sebab ada wanita lain di sisi kekasihnya, tetapi ini tentang hati, aku ingin membisikkan kepada hatimu, “aku tidak cemburu jika kau mencintai yang lebih cantik dariku, sama sekali tidak, tapi aku akan sangat cemburu jika kau mencintai seorang wanita yang akhlaknya begitu mulia, yang menundukkan pandangannya dari lelaki yang bukan mahromnya, yang suci hatinya”, tentu saja aku akan cemburu dengan wanita-wanita shalihah yang kau cintai, itu artinya aku adalah wanita yang buruk dan perlu banyak berbenah diri. Tapi ketika kau mencintai wanita yang cantik, yang jauh lebih cantik daripada aku, itu tandanya kau menunjukkan kualitasmu sebagai seorang laki-laki dan takaran hatimu sebagai seorang kekasih.. ada kecantikan yang membuat seseorang berdesir hatinya, namun ada kecantikan yang membuat orang lain berfikir seribu kali untuk sekedar mencintai..

Mati

Tidak ada debaran lagi
Sekalipun lautan cintanya mengombak
Mencemburuiku..

Adalah engkau
Yang selalu kusebut di penghujung sujud
Kiranya menyapaku kembali dalam sekilas rintik hujan
Yang menyentuh rasaku

Terpejam mataku
Dan engkau kelam ditikam kenangan
Tidak ada detakan lagi
Yang dulu berdenyut cepat saat namamu ku pagut

Terkuburlah engkau
Tapi tidak di tanah hatiku

Patuh #1 (cerbung)

Ucapan adalah takdir, keyakinanku saat itu.. Bahwa apapun yang terucap dari ibu adalah takdir. Jika ibu berkata hijau, maka aku menjelma menjadi daun, jika ibu berkata merah, maka aku menjelma menjadi mawar. Jika ibu berkata tidak, maka takdirku telah tertulis bahwa saat ini aku menangis. Bukan meratap, tidak, sekali lagi bukan. Aku hanya ingin bertanggung jawab atas hak ibu mengatakan tidak, aku hanyalah pelaku. Aku busur panah yang siap dilesatkan oleh sabda ibu.

Lelaki itu ibu, yang dulu sangat kau inginkan menjadi pendampingku, yang kucintai dia dengan palsu demi ibu, kini harus ku lepas dengan cinta juga demi ibu.. Waktu yang ku kerahkan untuk membuka hatiku dulu telah tertutup lagi, entah.. Iya dan tidakmu adalah misteri bagiku, yang pasti aku telah kehilangannya, kini aku milikmu ibu, hanya milikmu, milikmu yang tak lagi utuh, hatinya tergores fatwamu, engkau menggoresnya dengan pisau yang orang lain berikan padamu, ibu.. Inilah air mataku, sudah ku sapu.. Secangkir kopi menantiku, aromanya memanggilku, hai.. Kau dan aku kini sama, pait! Tapi nikmatilah 🙂