Rain Heart

Rintik hujan membawa kabar yang membuatku gigil serasa diguyur rindu, barusan saja hujan turun dan barusan saja aku mendiskusikan tentang “jembatan”, seperti itulah yang dikatakan oleh seorang bapak dari pandawa lima yang sedari tadi menelfonku membawa kabar gembira, ku meraba ceruk otakku, Lanjutkan membaca “Rain Heart”

Terguna-guna Cinta

Seorang wanita yang tengah galau mencurahkan isi hatinya padaku, bahwa dia sudah tidak senormal dulu, ada yang mengendalikan dirinya, sebut saja wanita itu nirmala, nirmala adalah gadis dari keluarga yang berada, ayahnya cukup disegani di lingkungannya, dia kini tidak sebebas dulu, dia dikurung dalam satu bilik karena terguna-guna oleh seorang lelaki, keluarganya sudah 3x meruqyahnya, nirmalapun mengakui jika dia benar-benar terguna-guna, “ada yang aneh memang dalam diriku, rasanya aku ingin keluar terus, dan aku hanya tunduk pada seseorang, ya tunduk pada dia.. Seorang santri putra dari pesantren di Jawa Timur yang menguna-gunaku, untung batinku tak kena juga, coba kalau kena aku tak tau jadi apa aku sekarang mbak”.. Lanjutkan membaca “Terguna-guna Cinta”

Senjaku Tenggelam

Surau yang tak biasa kuhadiri sepertinya ingin mendekapku sejenak disana, mungkin dia cemburu pada singgahku yang laksana istana kutiduri dengan lelap sehingga tak pernah kupedulikan hingar adzan di setiap lima waktu yang kata mereka adalah perjumpaan manusia dengan Tuhan, atau barangkali surau itu merasa tak ada lagi pengunjungnya disana.. Maka dipanggillah aku oleh surau itu, lalu aku menghampirinya, kupikir hanya 3 rakaat tak kan menyita waktuku meskipun melawan rasa malas naik turun tangga menuju surau.. Lanjutkan membaca “Senjaku Tenggelam”

Waktu Cinderella

“Sudah jam berapa?” Tanyaku pada seorang laki-laki yang tengah sibuk mengutak-atik desain brosur untuk proyeknya, entah didesain sebagus apa membuatnya tetap bertahan di tengah semilir nan gigilnya malam.. Katanya besok harus sudah jadi, ah sibuk sekali, padahal aku ingin membagi rinduku, sudah berat kutanggung sendiri..

“Jam duabelas”, aku menoleh arah dinding jam, sudah waktunya cinderella kembali ke peraduan, memang tak terasa memadu kasih lewat obrolan malam dengan sang pangeran, setauku bakda isyak tadi aku menghubunginya, tau-tau jarum-jarum jam sudah saling mendekap, menyetubuh ke arah utara… Lanjutkan membaca “Waktu Cinderella”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑