Bosan

Hari ini aku terlalu lelah, ayah.. menghadapi dunia.. tentang cinta itu, aku masih bisa bertahan, percayalah padaku.. pilihanku tentu saja terbaik..

Tapi hari ini aku sungguh lelah ayah, menghadapi hidup.. lelah sangat, tak bisa ku gambarkan ayah.. aku sangat lelah.. Lanjutkan membaca “Bosan”

Patuh #1 (cerbung)

Ucapan adalah takdir, keyakinanku saat itu.. Bahwa apapun yang terucap dari ibu adalah takdir. Jika ibu berkata hijau, maka aku menjelma menjadi daun, jika ibu berkata merah, maka aku menjelma menjadi mawar. Jika ibu berkata tidak, maka takdirku telah tertulis bahwa saat ini aku menangis. Bukan meratap, tidak, sekali lagi bukan. Aku hanya ingin bertanggung jawab atas hak ibu mengatakan tidak, aku hanyalah pelaku. Aku busur panah yang siap dilesatkan oleh sabda ibu.

Lelaki itu ibu, yang dulu sangat kau inginkan menjadi pendampingku, yang kucintai dia dengan palsu demi ibu, kini harus ku lepas dengan cinta juga demi ibu.. Waktu yang ku kerahkan untuk membuka hatiku dulu telah tertutup lagi, entah.. Iya dan tidakmu adalah misteri bagiku, yang pasti aku telah kehilangannya, kini aku milikmu ibu, hanya milikmu, milikmu yang tak lagi utuh, hatinya tergores fatwamu, engkau menggoresnya dengan pisau yang orang lain berikan padamu, ibu.. Inilah air mataku, sudah ku sapu.. Secangkir kopi menantiku, aromanya memanggilku, hai.. Kau dan aku kini sama, pait! Tapi nikmatilah 🙂

Revisi Doa

Tuhan, bolehkah aku merivisi doa?
Atas doaku yang dulu?
Yang mana aku meminta
agar Engkau buka tabir kebohongan
agar Engkau singkap topeng kemunafikan
agar Engkau berkenan menunjukkan
siapa yang benar dan siapa yang salah
agar Engkau mau memberikan balasan
terhadap seseorang yang telah mendzalimiku
agar Engkau umbar segala aibnya
sebagaimana dia mengumbar-umbar aibku..
Lanjutkan membaca “Revisi Doa”

Gores Luka

Jika hatimu peka, maka akan kau temukan ribuan luka yang menghujam dadaku, luka yang hanya bisa kutuliskan dengan bahasa rindu, rindu akan kebebasan, aku sudah hampir lelah dan menyerah untuk sekedar mengungkapkan, hanya menjalaninya dengan penuh diam, terkadang aku menyulut dalam sekat-sekat keheningan dengan ungkapan-ungkapan kacau seperti orang gila, dan kadang aku memejamkan kelopak sekedar mengalirkan air mata kesakitan yang lelah kubendung dengan senyuman..

Kesah

Meresapi celah rindu di dinding penjara suci adalah caraku agar tetap mengaliri waktu yang lekas berlalu, sembari menunggu hadirmu, engkau tak kunjung datang memeluk tubuh rentaku, yang kau bilang cinta suci dulu hanyalah sebuah pengkudusan terhadap nafsu yang enggan dinyatakan, simbolik.. lebih mirip yusuf yang dengan sekuat tenaga menyimpan deru degub jantungnya, bahkan mungkin seakan darahnya mendidih dan sesegera semburat ke suluruh nadi saat jemari lentik zalikha meraba dengan nikmat wajah rupawannya, seolah ingin melucuti hatinya, menanggalkan lapis demi lapis jubah kenabian, hingga mendapati hatinya telanjang dan lalu mensetubuhi imannya, meski dengan usaha yang begitu nihil, sekedar menutup mata untuk mengasingkan pandangan pesona sang ratu firaun.. tetap saja, nafsu bisa ditutupi, tapi cinta tak pandai bertipu muslihat, sekali terjerat, terperangkap seluruh jiwa raga.. ah, bukannya yusuf tak cinta.. tapi mencintai ternyata terlalu banyak syarat!
Lanjutkan membaca “Kesah”

Jejak

Dedaunan itu laksana aksara yang melambai-lambai dalam deru angin yang berharap kau rangkai lalu kau eja, dedaunan itu tak rela berguguran demi sempurna lafalnya, agar setidaknya kau rela suntuki seluruh ranting, memahami firasat, tentang sebuah rindu yang membeku, yang bahkan setetes embun cinta tak ingin mengaliri, hingga saat engkaupun enyah, menolehpun tiada, dedaunan di ranting terpatahkan, bukan sebab dahan terlalu rapuh, namun ia rela angin menghunusnya dan ia harus menerima saat menjadi yang terlupakan..

Blog di WordPress.com.

Atas ↑