Adeeva

Adeeva..

Mawar merahku yang indah

Penuh hasrat yang merekah

Dirintiki embun selaksa cinta

Dalam lapar dan dahaga

Namun tak jua berpuasa

Mawar merah nan suci

Bunga di taman surgawi

Menanti yang terkasih

Saat cintanya diuji

Di senja sendiri

Nafas berlari

Menyambut asih

Mawar merahku pergi

Berpaling gerlap duniawi

Kisah delapan purnama

Dalam rindu yang paripurna

Tirkah yang berharga

Disambut malaikat surga

Menantiku di pintunya

Mahkota yang ia persembahkan

Menjadi saksi penebusan

Dosa terhapuskan

Kita tak terpisahkan

Iklan

Revisi Doa

Tuhan, bolehkah aku merivisi doa?
Atas doaku yang dulu?
Yang mana aku meminta
agar Engkau buka tabir kebohongan
agar Engkau singkap topeng kemunafikan
agar Engkau berkenan menunjukkan
siapa yang benar dan siapa yang salah
agar Engkau mau memberikan balasan
terhadap seseorang yang telah mendzalimiku
agar Engkau umbar segala aibnya
sebagaimana dia mengumbar-umbar aibku..
Lanjutkan membaca “Revisi Doa”

Kesah

Meresapi celah rindu di dinding penjara suci adalah caraku agar tetap mengaliri waktu yang lekas berlalu, sembari menunggu hadirmu, engkau tak kunjung datang memeluk tubuh rentaku, yang kau bilang cinta suci dulu hanyalah sebuah pengkudusan terhadap nafsu yang enggan dinyatakan, simbolik.. lebih mirip yusuf yang dengan sekuat tenaga menyimpan deru degub jantungnya, bahkan mungkin seakan darahnya mendidih dan sesegera semburat ke suluruh nadi saat jemari lentik zalikha meraba dengan nikmat wajah rupawannya, seolah ingin melucuti hatinya, menanggalkan lapis demi lapis jubah kenabian, hingga mendapati hatinya telanjang dan lalu mensetubuhi imannya, meski dengan usaha yang begitu nihil, sekedar menutup mata untuk mengasingkan pandangan pesona sang ratu firaun.. tetap saja, nafsu bisa ditutupi, tapi cinta tak pandai bertipu muslihat, sekali terjerat, terperangkap seluruh jiwa raga.. ah, bukannya yusuf tak cinta.. tapi mencintai ternyata terlalu banyak syarat!
Lanjutkan membaca “Kesah”

Teduh

Memandangmu dengan begitu dalam buatku meluapkan air mata yang tak mampu lagi ku tampung di samudra cintaku, menatapmu tampak begitu lelah membuat kertas hatiku tak terbaca, buram oleh genangan yang berakhir dengan linangan.. aku menyeka kembali, meneteskan kembali rintik-rintik nurani, engkaukah itu? Yang tak pernah kusangka jadikanku segila ini dalam mencinta..

Lanjutkan membaca “Teduh”

Pahit

oh iya, terima kasih untuk yang sudah repot-repot mengajarkan kepadaku tentang arti “taat”, tapi maaf, sepertinya aku lebih tau dari kalian semua tentang makna “taat”, kalian melewatkan maslahah dan mafsadah dari sikap dan keputusan.. entah mungkin bahasa kalian adalah taat, tapi bagiku, itu penjilat..

Lanjutkan membaca “Pahit”

Keajaiban Cinta

Anakku… aku ingin kau menjadi orang yang jujur, apa adanya, bakti pada bapak ibuk, baik pada siapapun dan apapun stratanya, tidak menghujat keburukan orang lain, tidak membicarakan keburukan orang lain, tidak mengumbar keburukan orang lain, senantiasa memberi tanpa mengharap menerima, ikhlas terhadap takdir, tidak pernah menyerah pada hal apapun tapi sekali-kali mengalahlah jika demi kebaikan orang lain..

Lanjutkan membaca “Keajaiban Cinta”

Angpau dari Tuhan

Sangat mengerikan sekali saat menjadi pasangan pengantin baru ternyata para medis dan alternatif menyatakan bahwa aku belum bisa memiliki momongan karna penyakit ini dan penyakit itu, kurang ini dan kurang itu.. hati wanita mana yang tak sakit.. namun, dalam hati paling dalam aku berkeyakinan takdir bisa dilawan dengan doa.. maka sebelum menjadi nasib.. aku kan merubahnya dengan berbagai ikhtiar..
Lanjutkan membaca “Angpau dari Tuhan”

Topeng

Topeng-topeng yang kini kupandangi tampak begitu rupawan tampil di pentas kehidupan, mendongengkan sebuah roman picisan, melelapkan kenyataan, membalut dusta dengan siluet tanpa corak, seakan natural, polos dan gagah disandang..

Saat jarak tak lagi tersentuh, dengan kesederhanaan pemahamanku dan sebatas artiku di kehidupanku, tersempatkan waktuku dicelah dari kelengahanku, atas nama bakti, kebohongan dibaptis, kasih tak lagi mengalir bak mata air, membeku dan terhalang batu es, dingin.. aku semakin menggigil..

Lanjutkan membaca “Topeng”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑