Tambal Ember #cerpen

“Kau tak capek nggosip?”

Ah, seandainya aku bisa berkata seperti itu kepadanya, masalahnya dia lebih keras dari batu, baja, tank, beton, aku mengalihkan pandanganku tak menatapnya, agar dia sadar aku enggan menjadi sampah pikirannya, sampah suudzonnya dan sampah comberan hatinya..

“Lihat kemana kau?”

“Biarin lah orang-orang itu begitu, kalau kau ngomongin dia, mustinya kau dapat banyak angpau darinya sebagai ucapan terima kasihnya padamu karna kau dengan senang hati memberinya ganjaran di akhirat, engkau seperti kata Nabi, MUFLIS”

Ah, lagi-lagi kata-kataku tadi cuma dalam bayang-bayang saja, lidahku kelu, lidahku sepertinya bertulang, ada sesuatu yang membuatku tetap bisu. Rupanya dia melihat gelagat cuekku

“Apa kau tak mau liat aku lagi cerita? Dasar sok, suci.. hae, gak ada orang baik di dunia ini, semuanya palsu, kalau kita gak berfikir jauh tentang gelagat mereka, kita yang diinjak-injak”

Jleb.. ternyata buang mukaku mendapat label ‘sok suci’, lagi-lagi aku mencari kata agar moodnya kembali, aku sebut saja satu nama yang menjadi monster sekaligus moodboosternya,

“bentar ini ngecek, email, trus bagaimana dengan si indah?”

“Woooh.. dia sekarang udah sok kaya banget, duh kaya toko emas berjalan, padahaaal utangnya sana sini, komprang komprang, bla bla bla, jebret jebret jebret, tung tak tung….”

Untung deh aku gak kehabisan akal. Moodnya kembali membara dalam menggosip, entah sudah dapat berapa orang dalam sekali dudukku dengannya berdua saja. Tiba-tiba si indah datang, suasana menjadi hening, dia senyum manis dengan indah..

“Eh, indah.. sini-sini masuk, duuuh tambah cantik aja, sama siapa ini tadi? Bla bla bla, tungtaktung, jebreeeet….”

Aku pergi meninggalkan mereka berdua yang sedang asyik.. waktu maghrib tiba, ku ambil wudlu, mataku lelah, hatiku lelah, ingin menangis sejadi-jadinya. Aku memohon pada Tuhan agar kiranya menukar air mataku dengan ganjaran untuknya di setiap bulir, karna tak ada yang kumiliki selain air mata kasih sayangku kepadanya. Kiranya Tuhan mau meridloiku.

Ibu, engkau bangun petang hari sebelum subuh, memasak, mencuci, menyiapkan segala keperluan kami, pagi engkau berangkat mengajar pulang sore hari, mengajarkan ilmu agama, namun mengapa engkau lepas segala surga yang seharusnya menjadi milikmu dengan membicarakan keburukan orang lain?

Aku bermimpi melihat ibu menimba dari sumur yang dalam, tapi tak satu emberpun yang didapat ibu, dia terus dan terus menimba tanpa ada setetes air yang dapat dibawa pulang, lalu aku datang dan ibu menangis memberitahukan perihal ini, setelah aku amati ternyata ember yang digunakan ibu adalah ember yang bocor, lubangnya sangat besar.. aku terbangun, aku menangis lagi, “Tuhan, biarkan aku terjun ke sumur itu, menengadahkan tanganku, menjadi tambal dari ember ibu yang bocor, agar setidaknya ada setetes atau dua tetes air yang bisa diambil ibu.” Aku menangis, aku menangis..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s