Patuh #1 (cerbung)

Ucapan adalah takdir, keyakinanku saat itu.. Bahwa apapun yang terucap dari ibu adalah takdir. Jika ibu berkata hijau, maka aku menjelma menjadi daun, jika ibu berkata merah, maka aku menjelma menjadi mawar. Jika ibu berkata tidak, maka takdirku telah tertulis bahwa saat ini aku menangis. Bukan meratap, tidak, sekali lagi bukan. Aku hanya ingin bertanggung jawab atas hak ibu mengatakan tidak, aku hanyalah pelaku. Aku busur panah yang siap dilesatkan oleh sabda ibu.

Lelaki itu ibu, yang dulu sangat kau inginkan menjadi pendampingku, yang kucintai dia dengan palsu demi ibu, kini harus ku lepas dengan cinta juga demi ibu.. Waktu yang ku kerahkan untuk membuka hatiku dulu telah tertutup lagi, entah.. Iya dan tidakmu adalah misteri bagiku, yang pasti aku telah kehilangannya, kini aku milikmu ibu, hanya milikmu, milikmu yang tak lagi utuh, hatinya tergores fatwamu, engkau menggoresnya dengan pisau yang orang lain berikan padamu, ibu.. Inilah air mataku, sudah ku sapu.. Secangkir kopi menantiku, aromanya memanggilku, hai.. Kau dan aku kini sama, pait! Tapi nikmatilah 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s