Kesah

Meresapi celah rindu di dinding penjara suci adalah caraku agar tetap mengaliri waktu yang lekas berlalu, sembari menunggu hadirmu, engkau tak kunjung datang memeluk tubuh rentaku, yang kau bilang cinta suci dulu hanyalah sebuah pengkudusan terhadap nafsu yang enggan dinyatakan, simbolik.. lebih mirip yusuf yang dengan sekuat tenaga menyimpan deru degub jantungnya, bahkan mungkin seakan darahnya mendidih dan sesegera semburat ke suluruh nadi saat jemari lentik zalikha meraba dengan nikmat wajah rupawannya, seolah ingin melucuti hatinya, menanggalkan lapis demi lapis jubah kenabian, hingga mendapati hatinya telanjang dan lalu mensetubuhi imannya, meski dengan usaha yang begitu nihil, sekedar menutup mata untuk mengasingkan pandangan pesona sang ratu firaun.. tetap saja, nafsu bisa ditutupi, tapi cinta tak pandai bertipu muslihat, sekali terjerat, terperangkap seluruh jiwa raga.. ah, bukannya yusuf tak cinta.. tapi mencintai ternyata terlalu banyak syarat!

Sesekali aku hening merasukkan segala senyap, memahat malam dengan sayatan kesah, berjalan dengan gila ke setiap arahmu, dan pada taman yang kuziarahi, sekumpulan sepi merekah di darah mawar, meski layu warnanya tak pernah pucat, selalu merah, semerah hasratku nan dahsyat, yang entah.. mungkin tanpa rindu aku tersesat, dan tanpa belaianmu aku sekarat..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s