Senjaku Tenggelam

Surau yang tak biasa kuhadiri sepertinya ingin mendekapku sejenak disana, mungkin dia cemburu pada singgahku yang laksana istana kutiduri dengan lelap sehingga tak pernah kupedulikan hingar adzan di setiap lima waktu yang kata mereka adalah perjumpaan manusia dengan Tuhan, atau barangkali surau itu merasa tak ada lagi pengunjungnya disana.. Maka dipanggillah aku oleh surau itu, lalu aku menghampirinya, kupikir hanya 3 rakaat tak kan menyita waktuku meskipun melawan rasa malas naik turun tangga menuju surau..

Si pemilik surau, seorang ibu yang sudah baya itu menahanku sesaat setelah ritual senja tenggelam.. Mushaf itu disodorkan kepadaku, “aku ingin mendengar suara ngaji, sudah lama disini tak ada orang ngaji, mana jamaah sedikit, setelah solat langsung pergi”, aku terburu-buru menerima, di bayangku hanya berfikir tentang kekasihku yang sedang tidak sehat disana.. Bagaimana mungkin aku meninggalkannya? Setidaknya aku mengirimkan dia pesan tentang bagaimana keadaannya atau menelfonnya sebentar, aku tidak ingin menjadi kekasih yang kata pepatah arab “wujuduha ka adamiha”, adanya seperti tidak adanya, aku juga lupa tak menenteng handphone saat solat tadi, tapi? Mengapa juga solat sambil membawa handphone?

Aku seperti disandra dalam surau tua itu, kupandangi mushaf yang aku sedikit buta khot jenis itu, tiba-tiba rasaku tuk melahap mushaf itu makin giur seolah-olah makanan lezat yang aku sedang ‘ngidam’ ingin memakannya, dengan jiwa yang resah, aku mulai menyuntuki hijaiyahnya, dan sajak demi sajak kalam ku rengkuh, akupun mulai mengeja, huruf pembangun raga, fathah kedip mata, kasroh langkah kaki, dhommah bisik relung hati, teringat ikrarku saat aku mulai bisa melantunkan rangkaian huruf-huruf kalam indah itu, “aku ingin lancar mengeja huruf dan harokat, nyaring ucap lafadz, fasih membaca kalimat, teliti memaknai ayat, tepat memahami dan mengerti isyarat”, yah.. Aku ingin kalam itu ada dalam keharmonisan, huruf, lafadz, kalimat, dan ayat, yang selalu mewarnai darahku, aku ingin selalu mengejanya… Hampir 3 dari sab’ut tiwal sudah kulalui, tepat pula dengan datangnya waktu solat isya…

Muadzin itu hadir pukul 7 malam, meski suara agak sumbang dia begitu semangat menyeru panggilan solat, dengan jama’ah yang itu-itu saja juga dengan ibu yang tadinya selalu khusyu’ menyimak bacaanku berdiri di shaf kedua, di depanku hanya ada 2 orang laki-laki, 1 imam dan 1 tukang kebun yang juga muadzin tadi.. Pikiranku sudah kemana-mana, sesegera setelah salam dan doa aku kembali ke kamarku dan menghampiri separuh nyawaku, entah sejak kapan aku menganggap handphone adalah bagian dari nyawaku, mungkin karna alat itu satu-satunya yang menyambungkanku dengan seluruh jiwa dan hatiku yang sedari dulu kusemat pada kekasihku..

Rangkaian huruf dari pesan yang kubuka membuatku ngilu, sakit kepala yang sedari tadi mengungkung gerakku bertambah sakit, makanan yang barusan saja masuk ke perut serasa ikut berontak, lalu ku muntahkan, kopi yang kuracikpun tak tersentuh, semuanya jadi hambar, apakah seperti ini rasanya belahan jiwa? Seperti satu tubuh, ternyata benarlah jika aku ini “wujuduha ka adamiha”.. Aku meninggalkannya saat dia membutuhkanku.. Maafkan aku sayang.. Semoga Tuhan segera memberkahimu dengan kesehatan..

Gusti… Seandainya bisa, biar aku saja yang menanggung sakit itu,, jangan dia.. Dia terlalu banyak dibutuhkan oleh orang lain, jikalau aku yang menanggungnya tak jadi mengapa, aku memiliki banyak waktu untuk beristirahat, jangan dia.. Senjaku tenggelam, ditelan peristiwa malam..

Posted with WordPress for BlackBerry.

Iklan

8 thoughts on “Senjaku Tenggelam

    • ehee… gak tau gimana tadi menyusun cerita ini.. yang pasti saat sedang galau dan sakit..

      mbak elyyy makasii banget yaaah sudah berkunjung,, ingin menulis dengan lebih baik lagi πŸ™‚

    • hik… jadi maluu.. ini gak bagus2 amatkok mbak tulisannya 😦 tapi aku berusaha nulis dengan baik dan jujur, doakan yaaa… terima kasih ya mbak kunjungannya πŸ™‚ gimana yak cari temen di wordpress? apa blogwalking kayak di blogger ya mbak? hehe πŸ˜€ *sekalian tanya πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s