Waktu Cinderella

“Sudah jam berapa?” Tanyaku pada seorang laki-laki yang tengah sibuk mengutak-atik desain brosur untuk proyeknya, entah didesain sebagus apa membuatnya tetap bertahan di tengah semilir nan gigilnya malam.. Katanya besok harus sudah jadi, ah sibuk sekali, padahal aku ingin membagi rinduku, sudah berat kutanggung sendiri..

“Jam duabelas”, aku menoleh arah dinding jam, sudah waktunya cinderella kembali ke peraduan, memang tak terasa memadu kasih lewat obrolan malam dengan sang pangeran, setauku bakda isyak tadi aku menghubunginya, tau-tau jarum-jarum jam sudah saling mendekap, menyetubuh ke arah utara…

“Kau tak tidur?”,

“Kau dulu lah, aku nanti saja, brosurnya belum jadi”

“Aku ngantuk”

“Iya kau dulu”

“Ayo tidur”

“Nanti”

Obrolanku dan dia tak beda jauh dengan obrolan ibuku saat berada di pasar tradisional untuk menawar harga satu ekor ayam, ibuku piawai untuk menawar harga, penjual yang berjihad mati-matian mempertahankan harga ayampun takluk, “memang minta pasnya berapa buk seekor?”,

“Ya 25ribu, biasanya segitu kok”,

” Ya sudahlah”

Dan seperti itu taklukku pada tawarannya

“Ya sudah aku tidur dulu, kopiku sudah habis”

Sebenarnya mataku sudah tinggal beberapa watt saja dayanya untuk bisa terbuka, tapi akan sangat disayangkan jikalau aku tidur dan dia masih terjaga, waktuku dan dia tuk bertemu tak seintens dulu, dan tentunya rinduku makin menggebu, aku ingin selalu menemaninya seperti malam-malam yang lalu aku dan dia bersenda gurau, saling menghujani kata cinta, bahkan sampai muadzin mengumandangkan subuh.. Rindu semacam air laut saja, makin diminum makin haus, itu yang kumau, aku ingin kita tetap dahaga rindu sampai malam berlalu, dan selalu seperti itu..

Sementara aku menekan tombol merah handphone sesaat setelah menjawab salam darinya, aku belum bisa terpejam, masih terbayang suaranya, kuserat kembali rinduku dengan legamya kopi, melukis senyumnya dengan ampas kopi, dan ternyata nyala api tak menghanguskan batang-batang resah yang dia hirup, abunya menghambur kembali di hamparan kerinduan, di kamarku, tempatku bermimpi menuju ruang rindu.. Rindu memang tak pernah habis meski ditelan.. Selamat malam sayangku, lekaslah istirahat.. Pagiku menantimu #terpejam

Posted with WordPress for BlackBerry.

Iklan

12 thoughts on “Waktu Cinderella

  1. wow …. ajarin dong gimana bisa menulis sebagus ini
    btw, blognya cantik …. aku dulu pakai blogspot tapi krn ada masalah dgn kolom komentar jadi pindah wordpress sampai sekarang, krn lbh mengasyikkan

    maksudnya di follow gitu apa ya ? *maklum masih gaptek juga* ๐Ÿ˜€

  2. btw, aku baru tahu maksudnya di follow itu, blogger lain bisa mengikuti blognya Uswah khan ? … bisa kok, ada widget khusus di wordpress untuk mem follow ini

    • O gitu mbak ya.. Wah musti ungkreh2 komputer dulu ini ya buat pasang widget follow… Iyyaa aku pengen juga follow blognya mbak biar tau apdetan galeri foto bidikan mbak ely beserta suami juga tulisan2nya mbak ely.. Huhuyy. Pokonya makasi banyak ya mbak ๐Ÿ™‚

  3. sama sama , terus terang sebenarnya aku juga msh belajar lho, jadi kita belajar sama sama deh, pokonya enak di wordpress ๐Ÿ˜€

    met wiken ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s